konsep pendidikan akhlak

A.   Pengertian Tarbiyah Khuluqiyah

Kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata: pertama, rabba – yarbu yang berarti bertambah, tumbuh dan berkembang. Kedua, rabiya – yarba yang berarti menjadi besar, ketiga, rabba – yarabbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntut dan memelihara.[1]

Sementara itu menurut Prof. Dr. Muhammad Attiyah al-Abrasi[2] istilah tarbiyah itu berarti mendidik. Mendidik di sini berarti mempersiapkan peserta didik dengan segala macam cara supaya dapat mempergunakan tenaga dan bakatnya dengan baik, sehingga mencapai kehidupan yang sempurna di dalam masyarakat.

Adapun pengertian dari khuluqiyah atau afektif adalah suatu pendidikan yang berkaitan dengan sikap dan nilai.[3] Misalnya seorang siswa yang menyadari pentingnya kedisiplinan, maka sifat malas dan tidak berdisiplin yang ada pada dirinya akan dibuang jauh-jauh.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tarbiyah khuluqiyah adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk mempersiapkan peserta didik dengan berbagai cara yang mana dengan cara itu peserta didik dapat merubah sikap atau perilakunya kepada yang lebih baik, yang sesuai dengan ajaran agamanya.

Dilain pihak dalam bukunya Muhammad Yunus dan Moh. Qosim Bakar[4], tarbiyah khuluqiyah diartikan sebagai suatu pendidikan adab yang mana dengan pendidikan tersebut seseorang dapat membiasakan diri mempunyai sifat bagus dan mulia. Seperti, jujur, ikhlas, percaya diri, sikap menolong, dsb.

Dari berbagai definisi di atas kita dapat mengetahui bahwa tarbiyah khuluqiyah itu mempunyai peranan yang penting dalam pendidikan karena tarbiyah khuluqiyah itu menyangkut pada pembinaan akhlak manusia untuk menuju pada manusia yang sempurna.

B.   Implementasi Tarbiyah Khuluqiyah dalam Proses Pendidikan Islam

Sebelum anak didik berfikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak, serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, maka ada berbagai metode yang dapat ditetapkan dalam pendidikan khususnya pada aspek khuluqiyah.

Menurut al-Nahlawi[5], dalam al-Qur’an dan hadits dapat ditemukan berbagai metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan, khususnya pada aspek khuluqiyah di antaranya:

  1. Metode hiwar (percakapan) Qur’an dan nabawi.
  2. Metode kisah Qur’an dan Nabawi.
  3. Metode amtsal (perumpamaan) Qur’an dan nabawi.
  4. Metode keteladanan.
  5. Metode pembiasaan.
  6. Metode ibrah dan mau’izah.
  7. Metode targib dan tarhib.

Senada dengan pendapat tersebut, Quthb[6] mengatakan bahwa pendidikan Islam dapat dilakukan melalui teladan, teguran, hukuman, cerita, pembiasaan dan melalui pengalaman-pengalaman konkret.

Mengingat begitu banyaknya metode-metode yang dapat digunakan dalam pendidikan Islam, maka dalam pembahasan ini akan dipilih metode-metode yang lebih tepat untuk diterapkan pada anak prasekolah antara lain:

  1. Metode Hiwar (percakapan)

Maksudnya adalah percakapan antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topik.

Dalam konteks pendidikan prasekolah, metode hiwar ini dapat diterapkan dengan catatan materi hiwar yang sesuai dengan perkembangan intelektual anak, dan ciri yang dimiliki oleh anak. Metode ini juga dapat dilaksanakan bersama-sama dengan metode cerita atau dongeng, karena dengan cerita, anak dengan penuh perhatian akan melibatkan diri dengan realita-realita yang diberikan oleh guru, walaupun kemampuan untuk menangkap isi cerita belum begitu sempurna. Guru dapat memberikan cerita-cerita mulai dari yang sangat sederhana sekali.

Cerita / dongeng di sini mempunyai nilai yang sangat bermanfaat bagi anak, antara lain: pertama, cerita bermanfaat bagi perkembangan pengamatan, ingatan, fantasi dan pikiran anak.  Kedua, bahan cerita yang baik dan terpilih sangat berguna sekali untuk pembentukan budi pekerti anak, dan ketiga, bentuk cerita yang tersusun baik dari cara penyampaiannya juga baik akan dapat menambah perbendaharaan bahasa. Karena begitu besar pengaruh dongeng / cerita bagi anak, maka metode ini patut dijadikan salah satu bentuk metode dalam pendidikan Islam.

  1. Metode Pembiasaan

Kebiasaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, karena kebiasaan akan menghemat kekuatan pada manusia. Namun demikian kebiasaan juga akan menjadi penghalang manakala tidak ada “penggeraknya”.

Inti pembiasaan sebenarnya adalah pengulangan[7] terhadap segala sesuatu yang dilaksanakan atau yang diucapkan oleh seseorang. Misalnya, anak-anak dibiasakan bangun pagi / hidup bersih, maka bangun pagi / hidup bersih adalah suatu kebiasaan. Hampir semua ahli pendidikan sepakat untuk membenarkan pembiasaan sebagai salah satu upaya pendidikan.

Metode pembiasaan tidak hanya diperlukan bagi anak-anak yang masih kecil, baik tingkat TK / SD, sampai Perguruan Tinggi pun metode pembiasaan ini masih diperlukan. Ditinjau dari segi perkembangan anak, pembentukan tingkah laku melalui pembiasaan akan membantu anak tumbuh dan berkembang secara seimbang.

Dalam pendidikan prasekolah (TK) penerapan metode ini dapat dilakukan dengan guru memberi / melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, seperti hidup bersih, hidup rukun, tolong menolong, jujur, dll. Untuk menanamkan dan membina rasa beragama pada anak, seorang guru dapat memulainya dengan mengajarkan dan membiasakan berdoa dalam aktifitas sehari-hari, seperti doa akan / selesai makan dan tidur, meminta maaf kalau mempunyai kesalahan dsb. Dengan pengajaran semacam ini, anak secara otomatis akan menjadi terbiasa baik di sekolah maupun di rumah.

  1. Metode Keteladanan

Sebenarnya metode keteladanan ini diterapkan secara bersama-sama dengan metode pembiasaan, sebab pembiasaan itu dicontohkan oleh guru dan dengan contoh tersebut guru diharapkan menjadi teladan bagi anak didik.

Metode keteladanan ini merupakan salah satu teknik pendidikan yang efektif dan sukses. Dalam Islam, Allah telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan yang baik bagi manusia;

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21).[8]

Telah diakui bahwa kepribadian Rasul sesungguhnya bukan hanya teladan buat suatu masa, satu generasi, satu bangsa atau satu golongan tertentu, tetapi merupakan teladan universal, buat seluruh manusia dan generasi. Teladan yang abadi dan tidak akan habis adalah kepribadian Rasul yang di dalamnya terdapat segala norma, nilai dan ajaran Islam.

Dalam praktek pendidikan, anak didik cenderung meneladani pendidinya dan ini diakui oleh hampir semua ahli pendidikan. Dasarnya adalah secara psikologis anak senang meniru, tidak saja yang  baik-baik yang jelekpun ditirunya, dan secara psikologis pula manusia membutuhkan tokoh teladan dalam hidupnya. Di sinilah letak relevansi dan keterkaitan antara metode keteladanan dengan metode cerita, artinya guru tidak hanya bisa berbicara tetapi juga harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak.

Menurut an-Nahlawi[9] pendidikan melalui teladan ini dapat diterapkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Keteladanan yang tidak disengaja ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan, dll. Sedangkan keteladanan yang disengaja adalah memberi contoh membaca yang baik, mengerjakan shalat yang benar, dll. Dalam pendidikan Islam kedua macam keteladanan tersebut sama-sama pentingnya.

  1. Bermain: cara belajar yang terbaik usia pra sekolah (TK)

Bermain merupakan cara dinamis untuk belajar. Oleh karena itu begitu besar nilai bermain dalam kehidupan anak, maka pemanfaatan kegiatan bermain dalam program kegiatan anak TK merupakan syarat mutlak. Bagi anak TK belajar adalah bermain dan bermain sambil belajar.

Dalam pengajaran agama terutama untuk membina kesadaran beragama, penerapan metode ini dapat diarahkan kepada permainan yang dapat menumbuhkan kesadaran beragama anak. Misalnya, anak diberi mainan bola, gambar-gambar untuk ditata (seperti gambar rumah, manusia, masjid, dll). Lewat gambar itu sambil bermain anak dipusatkan pada topik sambil diajak untuk berpikir / mengetahui apa kegunaannya, siapa yang menciptakan dan lain sebagainya.[10]

Dari berbagai metode di atas, akan lebih bijaksana kalau sekiranya penerapan metode tersebut lebih menuntut pada kemampuan guru untuk mengembangkan kemampuan mengajar dan memilih metode yang tepat yang sesuai dengan keadaan dan kondisi peserta didik.

C.   Implikasi Tarbiyah Khuluqiyah dalam Proses Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan salah satu aspek dari ajaran Islam secara keseluruhan, karena tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah SWT yang selalu bertaqwa kepada-Nya dan dapat mencapai kehidupan bahagia di dunia dan akhirat.[11] Inilah yang disebut tujuan akhir Pendidikan Islam.

Dalam konteks pendidikan Islam, pencapaian tujuan tersebut khususnya untuk membina kesadaran beragama pada anak dapat melalui berbagai contoh pembiasaan, cerita, teladan, yang kemudian diberikan penjelasan dan pengertian sesuai taraf pemikirannya tentang norma dan nilai-nilai kemasyarakatan, kesusilaan, dan keagamaan yang mana dengan penjelasan dan pengertian tersebut akan menumbuhkan tindakan, sikap pandangan, pendirian, keyakinan, dan kesadaran serta kepercayaan untuk berbuat sesuatu yang bertanggung jawab. Pada akhirnya akan terbentuk kata hati (kerohanian yang luhur) pada anak di masa dewasanya, yang memberikan pengaruh yang bermanfaat pada akal secara langsung dan mempengaruhi tenaga-tenaga kejiwaan lainnya agar tenaga-tenaga itu mempengaruhi akal secara positif.[12]

Selain hal diatas, secara umum ada beberapa kekuatan sebagai implikasi dari penggunaan spirit agama diantaranya : Pertama, spirit agama dapat membangkitkan motivasi dan produktivitas karena diikat oleh visi yang sama.Kedua, pengelolaan kurikulum lebih integratif , karena bermuatan nilai-nilai agama. Ketiga, pengelolaan pembiayaan pendidikan lebih banyak terkontrol. Keempat, secara kelembagaan, mekanisme organisasi berjalan sesuai dengan rel kebenaran yang bersumber dari niat tulus mengabdikan diri pada pengembangan kualitas masyarakat melalui pendidikan.[13]

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implikasi tarbiyah khuluqiyah dalam proses pendidikan islam adalah terbentuknya sikap, mental, akhlak dan kepribadian anak yang mulia serta tercapainya kepuasan spritual karena mampu menyampaikan pesan-pesan ilahiah melalui kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

  1. 1.    Tarbiyah khuluqiyah adalah suatu pendidikan adab yang mana dengan pendidikan tersebut dapat membiasakan diri mempunyai sifat bagus dan mulia.
  2. 2.    Implementasi terbiyah khuluqiyah dalam proses pendidikan Islam khususnya pada anak pra sekolah

a.  Metode Hiwar

b.  Metode Pembiasaan

c.  Metode Keteladanan

d.  Bermain

  1. Implikasi Tarbiyah khuluqiyah dalam proses pendidikan Islam adalah terbentuknya sikap, mental, akhlak dan kepribadian anak yang mulia.

B.   Saran – saran

1. Orang tua

Dalam era globalisasi seperti ini seharusnya orang tua dalam mendidik dan membina akhlaknya dimulai sejak dini bisa menggunakan latihan atau pembiasaan-pembiasaan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya karena dengan latihan dan pembiasaan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat sehingga tidak dapat tergoyahkan oleh siapapun.

2.  Pendidik

Dalam proses pendidikan maupun pengajaran sebaiknya pendidik lebih menekankan pada aspek afektif, karena pada aspek inilah yang pada akhirnya menentukan tingkah laku peserta didik dan pada aspek ini pula pendidik dapat menanamkan atau membina kesadaran beragama pada peserta didiknya.

3.  Masyarakat

Dalam mencapai tujuan pendidikan perlu adanya dukungan dari masyarakat / lingkungan, maka dari itu seharusnya masyarakat dapat menciptakan kondisi yang kondusif dalam proses pendidikan karena aktualisasi diri (pembiasaan) individu hanya mungkin apabila kondisi lingkungan menunjangnya dan dalam hal ini akan mempermudah pencapaian kecakapan jasmaniah.

DAFTAR RUJUKAN

al-Abrasi, Muhammad Athiyah, Ruh al-Tarbiyah al-Islamiyah. Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, cet ke-1, 1369 / 1950 M.

an-Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-prinsip Dasar Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat. Terj. Herry Noer Ali Bandung: Diponegoro, 1989.

Mas’ud, Abdurrahman, dkk, Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001.

Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Ihsan, Hamdani & A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998.

Quthb, Muhammad, Sistem Pendidikan Islam. terj. Salman Harun, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1993.

Sudijono, Anas.  Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja grafindo, tt.

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.

Yunus, Muhammad & Moh. Qosim Bakar, at-Tarbiyah Wa Ta’im. Gontor: Darussalam.   Pers, tt.


[1] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 26.

[2] Muhammad Athiyah al-Abrasy, Ruh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, cet ke-1, 1369 H / 1950 M).

[3] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja grafindo, tt), 54.

[4] Muhammad Yunus & Moh. Qosim Bakar, at-Tarbiyah Wa Ta’im, (Gontor: Darussalam Pers, tt), 36.

[5] Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip Dasar Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, Terj. Herry Noer Ali (Bandung: Diponegoro, 1989), 283.

[6] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, terj. Salman Harun (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1993), 324.

[7] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan, 144.

[8] QS. Al-Ahzab ayat 21.

[9] An-Nahlawi, Prinsip-prinsip Dasar, 372.

[10] Abdurrahman Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), 226 – 227.

[11] Lihat dalam QS. Al-Dhariyat [51]: 56 : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.” Lihat juga Q.S. al-Imran [3] : 102. “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah SWT, dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.”

[12] Hamdani Ihsan & A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), 250-251.

[13] Hhtp. // www. suara merdeka. com / harian / 0501 / 07 / opi 3. htm.

Published in: on May 9, 2009 at 12:58 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://masekowahyudi.wordpress.com/2009/05/09/konsep-pendidikan-akhlak/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: