pendidikan PAI

ilmu pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Permasalahan tentang pendidikan menjadi suatu hal yang penting untuk dibahas pada zaman sekarang ini.
Dalam dunia pendidikan seorang pendidik berposisi sebagai subjek. Sementara anak didik tidak dapat dianggap sebagai objek, meskipun terhadap mereka inilah proses pendidikan di tujukan. Sementara lingkungan merupakan kesatuan yang berpautan secara utuh dan erat antara subyek dan obyek pendidikan. Oleh karena itu sasaran dan obyek penddiikan tidak hanya sekedar on one item, tapi item in on term. Dengan kata lain sasaran yang akan dicapai dalam pendidikan adalah obyek yang nyata dan kenyataan yang obyektif. Obyek nyata yang mampu mempertemukan antara suyek dan obyek pendidikan dalam satu kondisi, disebut ilmu (knowledge, ijazah, sk dan bermacam corak dan tingkatannya). Sedangkan kenyataan yang obyektif, lazim disebut dengan al-hikmah, ibarat, tamtsil, pitutur dan lain-lain.
Di era global seperti ini orang tua harus memperhatikan pendidik anaknya dan pendidikan itu harus di dahulukan karena tanpa adanya pendidikan seseorang tidak bisa berbuat apa-apa.

B. POKOK PEMBAHASAN
Pokok-pokok bahasan yang akan dipelajari dalam makalah ini adalah:
a. Apa pentingnya pendidikan ?
b. Apa itu pendidikan ?
c. Siapakan pendidik?

BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP TARBIYAH DAN IMPLIKASINYA DALAM
PROSES PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Pendidikan
Dalam bahasa arab, para pakar pendidikan pada umumnya menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan diantaranya adalah Ahmad Fuad al-Ahwan, Ali Khafil Abu al-‘Ainain, Muhammad Athiyah al-Abrasyi dan Muhammad Munir Mursyi misalnya menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan.
Sementara itu menurut Prof. Dr. Muhammad Attiyah al-Abrasyi istilah al-Tarbiyah lebih tepat digunakan dalam konteks pendidikan Islam dari pada al-Ta’lim. Keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Tarbiyah berarti mendidik sedangkan Ta’lim berarti mengajar. Mendidik berarti mempersiapkan peserta didik dengan segala macam cara, supaya dapat emmpergunakan tenaga dan bakatnya dengan baik, sehingga mencapai kehidupan yang sempurna di dalam masyarakat. Oleh karena itu pendidikan mencakup pendidikan akal, kewarganegaraan, jasmaniyah, akhlak, dan kemasyarakatan. Sementara al-Ta’lim hanya merupakan salah satu bagian dari sarana-sarana pendidikan yang bermacam-macamitu. Hal ini ia nyatakan dalam teks berikut:
هنالك فرق كبير بين التربية والتعليم. فالتربية اعداد الفرد بكل وسيلة من الوسائل المختلغة كي ينتفع بمواهبة وميو له ويحيا حياة كاملة فى المجتمع الذي يعيش فيه. وتشتمل التربية العقلية, والوطنية, والجسمية, الخلقية, والإجتماعية, اما التعليم فهو ناحية من تلك النواحى المختلفت للتربية.
Dalam konteks ini Dr. Mahmud Yunus sependapat dengan al-Abrasi, bahwa al-Ta’lim adalah salah satu sarana diantara sarana-sarana al-tarbiyah. Al-ta’lim secara khusus hanya menyampaikan ilmu pengetahuan ke dalam pikiran dan mengisi ingatan-igatan anak dengan masalah-masalah ilmu pengetahuan dan seni. Sarana-sarana dalam ta’lim itu ada tiga, yaitu: guru, murid dan ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana ia nyatakan dalam teks berikut:
ان التعيم عامل من عوامل التربية وينحصر فى إصال المعلومات إلى الذهن وصك حوافض النشئ بمسائل العلوم والفنون. وعوامله ثلاث وهي المعلوم والمتعلم والمعلومات.
Lebih lanjut Dr. Mahmud Yunus menyetakan bahwa al-Tarbiyah lebih luas daripada al-ta’lim. Sebab al-tarbiyah mencakup: (1) menumbuhkan jasmani dan menyediakan sesuatu yang dbutuhkan oelh jasmani, seperti: makanan yang sehat dan bergizi, uadara yang segar. Latihan-latihan jasmani dan menjaga dari kejahatan penyakit yang kana melemahkan dan menghambat pertumbuhannya; (2) menumbuhkan pemikiran akalnya dan mencerdaskan kemampuan akal, baik dalam hal pnca indera dan kekuatan pemikirannya dengan petunjuk, argumentasi, cara menarik kesimpulan, daya khayal dan lain sebagainya; (3) pembinaan akhlak yang mulia dan pembentukan kebiasaan yang baik, seperti taat, jujur dalam perkataan dan perbuatan, dapat dipercaya, selalu menjaga kebersihan, bersidiplin dalam menjalan aktifitas, emnghormati yang lain dan semacamnya serta menumbuhkan perasaan yang benar, menanamkan kecintaan sopan santun. Kesemuanya itu hanya dapat terwujud dengan nasehat-nasehat lisan, pengajaran yang baik dan teladan yang baik. Hal ini ia nyatakan dalam teks berikut:
أما التربية فهي اوسع دائرة من التعليم. فهي تشتمل (1) إنماء الجسم وتعهده بما يحتاج إليه من الغداء الصالح والهواء النقي والتمرين البدني ووقايته شر اللأمراض التي تضعفه وتعوق نموه (2) انما الدراك وارهاف القوي العقلية سواء فى ذالك النواس الخمس والقوي الفكرية من برهنة وتعليل واستباط وتخيل غيرها (3) تهذيب الأهلاق وتكوين العادة الحسنة مثل الطاعة والصدق فى القل والعمل والأمنانة والنظافة والنظام فى الأعمال واحترام الخير ونحوها وايجاد الشعور الصادق وغرس العواطف الأنبيه. زذالك كله إنما يكون با لنصيحة القةلية والموعظة الحسنة والقدوة الصالحة.
Dengan demikian definisi yang tepat untuk melihat bahwa pendidikan (al-tarbiyah) lebih luas dari pengajaran (al-Ta’lim) adalah pemberian pengaruh dengan berbagai macam yang berpengaruh yang sengaja kita pilih untuk membantu anak, agar berkembang jasmaninya, akalnya dan akhlaqnya sehingga sedikit demi sedikit sampai kepada batas kesempurnaan maksimal yang dapat ia capai, sehingga ia bahagia dalam kehidupannya sebagai individu dan dalam kehidupan kemasyarakatan (sosial) dan setiap tindakan yang keluar daripadanya sebagai individu dan setiap tindakan yang keluar daripadanya menjadi lebih sempurna, lebih tepat dan lebih baik bagi masyarakat. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Mahmud Yunus dalam teks berikut:
التربية هي التأثير بجميع المؤثرات المختلفة التى نختارها قصدا لنساعد بها الطفل على ان يترق جسما وعقلا وخلقا حتى يصل تدريجيا إلى أقصى ما يستطيع الوصول من الكمال وإن يكون سعيدا فىحياته الفردية والإجتماعية ويكون كل عمل يصدر منه اكمل واتقن واصلح للمجتمع.

B. Konsep Pendidik / Tarbiyah
Salah satu unsur penting dari proses pendidikan adalah pendidik. Di pundak pendidik terletak tanggung jawab yang amat besar dalam upaya mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan cultural transition yang bersifat dinamis kea rah suatu perubahan secara kontiniu, sebagai sarana vital bagi membangun kebudayaan dan peradaban umat Islam. Pendidik tanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, mota, estetika maupun kebutuhan fisik peserta didik. Seorang pendidik bertanggung jawab penuh dalam mendidik anak / peserta didik kea rah yang lebih baik.

C. Implikasi Tarbiyah dalam Proses Pendidikan Islam
1. Implikasi pendidikan pada pendidik
Dalam melaksanakan pendidikan Islam, peranan pendidik sangat penting artinya dalam proses pendidikan karena dia yang bertanggunga jawabdan menentukan arah p[endidikan tersebut. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu pengetahuan yang bertugas sebagai pendidik, karena memiliki ilmu pengetahuan untuk melaksanakn tugasnya sebagai pendidik. Pendidik mempunyai tugas yang mulia, sehingga Islam memandang pendidik mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada orng-orang yang tidak berilmu dan orang-orang yang bukan sebagai pendidik. Tetapi di samping itu orang-orang yang berilmu tidak boleh menyembunyikan atau menyimpan ilmu-ilmu yang dimilikinya itu untuk dirinya sendiri., melainkan memberikan dan menolong orang lain yang tidak berikmu sehingga menjadi berilmu (pandai).
Penghormatan dan penghargaanIslam terhadaap orang-orang yang berilmu itu terbukti di dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi
بـــسم الله الرحمن الرحيم
يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتوالعلم درجات. (المجاد لة: 11)
Artinya: “Allah akan meninggalkan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadalah: 11)
Tetapi orang-orang yang berilmu tidak mengajarkan atau menyampaikan ilmunya kepada orang lain akan mendapat ancaman berat sebagaimana dilukiskan dalam haditsnabi yang berbunyi:
من علم فكتمه الجمه الله يوم القيامة بلجام من النار(رواه أبو دود
Artinya: “Barang siapa yang diajari sesuatu ilmu lalu dia menyembinyikannya, maka Allah mengekangnya pada hari kiamat dengan kekangan api neraka. Diwajibkan bagi pendidik untuk melaksanakan tugas dengan baik. Mau menyalurkan ilmunya kepada orang-orang yang belum tahu.”
2. Implikasi pendidik pada anak didik / pesrta didik
Pendidikan merupakan bimbingan dan pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada anak didik sesuai dengan perkembangan jasmaniah dan rohaniah ke arah kedewasaan. Untuk itu peserta didik harus dipandang secara filosofis yaitu menerima kehadiran keakuannya. Keindividuannya, sebagaimana mestinya ia (eksistensinya). Inilah prinsip dasar pendidikan untuk peserta didik harus dipandang sebagai subjek. Karena peserta didik diakui keakuannya, maka dalam halini pendidik tetap memegang peranan tidak membenarkan tindakan peserta didik itu, melainkan tetap membantu, memberi pertolongan, melayani sesuai dengan eksistensinya agar menuju perkembangan yang dewasa sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Peserta/ anak didik harus dipandang sebagai subjek karena keakuannya akan tetapi seorang pendidik lebih penting dalam memegang peranan ini.
3. Implikasi pendidikan pada kuriulum
Sistem pendidikan menurut pengkajian kurikulum yang islami, tercermin dari sifat dan karakteristiknya. Kurikulum seperti itu hanya mungkin apabila bertopang dan mengacu pada dasar pemikiran yang islami pula, serta bertolak dari pandangan tentang manusia antropolgis serta diarahkan pada tujuan pendidikan yang dilandasi kaidah-kaidah islami.
Agar kriterium pendidikan tersebut diatas dapat terpenuhi maka dalam penyusunannya harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Sistem dan perkembangan kurikulum tersebut hendaknya selaras dengan fitrah islami sehingga memiliki peluang untuk menyucikannya, terjaganya dari penyimpangannya, dan menyelamatkannya.
b. Kurikulum yang dimaksud hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan islam, yaitu ikhlas, taat, dan beribadah kepada Allah.
c. Hendaknya kurikulum itu realistik, dalam arti bahwa ia dapat dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi serta batas kemungkinan yang terdapat di Negara yang akan melaksanakannya.
d. Hendaknya metode pendidikan atau pengajaran dalam kurikulum itu bersifat luwes sehingga dapat disesuaikan dengan bebagai kondisi dan situasi setempat dengan mengingat pula faktor perbedaan individual yang menyangkut bakat, minat serta serta kemampuan siswa untuk menangkap, mencerna dan mengolah bahan pelajaran yang bersangkutan. System kurikulum ini bertujuan untuk meningkatkan pendidikan yang ada di Negara-negara di dunia yang berlandaskan pada kaidah-kaidah islam.
4. Implikasi pendidik pada pertumbuhan anak manusia
Pertumbuhan berdasarkan draktis atau paedogogis adalah sebagai berikut:
a. Periode pendidikan pertama: sejak lahir sampai umur 6 tahun. Anak dijaga dari segala yang mengotorkan jasmani dan rohani(yakni antara lain dengan cara disembelihkan akikah dan diberi nama yang baik). Periode ini adalah masa pendidikan secara dresser (pembiasaan) dalam hal yang baik-baik.
b. Periode pendidikan kedua: yakni anak didik tentang adap kesusilaan. Pendidikan ini mulai umur 6 tahun.
c. Periode pendidikan ke tiga: anak didik seksualnya dengan cara memisahkan tempat tidurnya dari orang tuanya, sebab hubungan seksual ayah dan ibu bila sampai dilihat oleh anaknya, akan membahayakan jiwa anak tersebut, karena anak mempunyai watak suka meniru perbuatan oranglain terutama orang tuanya. Anak periode ini menginjak umur 9 tahun.
d. Periode pendidikan ke empat: yakni bagi anak yang berumur 16 tahun pada masa ini telah mengalami masa kedewasaan nafsu birahinya (seksnya) yang banyak memerlukan penjagaan dari orang tuanya agak tidak terjadi akses-akses seksual yang merugikan. Maka pada saat ini, ayah diizinkan mengawinkan anaknya, sebab menurut pandangan islam kawin merupakan jalan sebaik-baiknya bagi pencegahan akses-akses seksual tersebut.
e. Periode pendidikan kelima: yakni bagi anak umur 16 tahun pada masa ini anak telah mengalami masa kedewasaan nafsu birahinya (seksnya)yang benyak memerlukan penjagaan dari orang tuanya agar tidak terjadi akses-akses seksual yang merugikan. Maka pada saat ini, ayah diizinkan mengawinkan anaknya, sebab menurut pandangan Islam kawin merupakan jalan sebaik-baiknya bagi pencegahan akses-kases seksual tersebut.
f. Periode pendidikan ke enam: yakni bagi umur dewasa (16 samapi umur 21 tahun). Pada waktu ini, anak telah dilepaskan oleh orang tuanya dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri tidak bergantung lagi kepada orang tuanya. Anak pada masi ini harus mendidik dirinya sendiri, harus self standing.
Disamping itu didalam islam didapati pula periodisasi pertumbuhan yang dinamakan: masa hadanah atau masa pendidikan kanak-kanak. Masa ini anak umur 0-7 tahun. Sedangkan masa selanjutnya disebut masa dhom yakni bagi anak yang berumur 7 tahun sampai dewasa. Pendidikan ini penting bagi pendidik untuk mengetahui usia perkembangan beserta cirri-ciri anak didiknya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
 Tarbiyah adalah pemberian pengaruh dengan berbagai macam yang berpengaruh yang sengaja kita pilih untuk membantu anak, agar berkembang jasmaninya, akalnya dan akhlaknya sehingga sedikitdemi sedikit sampai kepada batas kesempurnaan maksimal yang dapat ia capai, sehingga ia bahagia dalam kehidupan sebagai individu dan dalam kehidupan kemasyarakatan (sosial) dan setiap tindakan yang keluar baik bagi masyarakat.
 Pendidikan merupakan cultural transition yang bersifat dinamis kearah suatu perubahan secara kontiniu, sebagai sarana vital bagi membangun kebudayaan dan peradaban umat Islam. pendidik bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, moral, estetika maupun kebutuhan fisik peserta didik.
 Penghormatan dan penghargaan Islam terhadap orang-orang yang berilmu itu terbukti di dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat: 11.
 Pendidikan merupakan bimbingan dan pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada anak didik sesuai dengan perkembangan jasmaniah dan rohaniah kearah kedewasaan, untuk itu peserta didik harus di pandang secara filosofis yaitu menerima kehadirian keakuannya, keindividuannya, sebagaimana mestinya ia ada (eksistensinya). Inilah prinsip dasar pendidikan untuk peserta didik harus dipandang sebagai subjektif.
 Agar kriteria kurikulum pendidikan terpenuhi maka dalam penyusunannya harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Sistem dan perkembangan kurikulum tersebut hendaknya selaras dengan fitrah insani sehingga memiliki peluang untuk menyucikannya, menjaganya dari penyimpangannya dan menyelamatkannya.
b. Kurikulum yang dimaksud hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yaitu ikhlas, taat dan beribadah kepada Allah.
c. Hendaknya kurikulum itu realistic
d. Hendaknya metode pendidikan atau pengajaran dalam kurikulum itu bersifat luwes.
 Di dalam Islam di dapati pula periode pertumbunhan yang dinamakan masa hadanah atau masa pendidikan kanak-kanak, masa ini bagi anak umur 0-7 tahun. Sedangkan masa selanjutnya disebut masa dhom yakni bagi yang berumur 7 tahun sampai dewasa.

B. Saran:
 Pendidikan berfungsi untuk melihat hasil pendidikan secara obyektif yaitu evaluasi yang didasarkan kepada hasil yang dicapai oleh setiap orang yang menjadi sasaran dalam kegiatan pendidikan.
 Hasil dari proses pendidikan sekecil apapun harus dihitung , dinilai dan padukan secara komprehensif dan di korelasikan antara satu bagian dengan yang lain, sehingga dapat di kettahui hasilnya secara utuh.

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Poko Pembahasan 1
BAB II :PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan 2
B. Konsep Pendidik/ Tarbiyah 5
C. Implikasi TarbiyahDalam Proses Pendidikan Islam 5
1. Implikasi Pendidikan Pada Pendidik 5
2. Implikasi Pendidikan Pada Anak Didik/ Peserta Didik 6
3. Implikasi Pendidikan Pada Kurikulum 7
4. Implikasi Pendidikan Pada Pertumbuhan Anak Manusia 8
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan 10
B. Saran 11

DAFTAR RUJUKAN

Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi Mengungkap Pesan Al-Qur’an, Tentang Pendidikan, Ponorogo: STAIN Press, 2007.
Ahmad Fuad al-Abwani, Menggunakan Kata tarbiyah untuk Bukunya berjudul Fi-al Islam. Mesir, Dar al-Ma’rif, tt.
Ali Khoiri Abu al-Ainain, Falsafah al-Tarbiyah Fi al-Qur’an al-Karim, Beirut: Dar al-Fikri, al-Araby, 1980.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi, al-Islamiyah Wafalsafatuha, Mesir: Isa atbaby, 1975. dan dalambukunya Ruh alTarbiyah al-Islamiyah Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah. Cet ke I, 1369 H / 1950 M.
Muhammad Munir Mursyi, Al-Tarbiyah al-Islamiyah Usuluha wa Tatawwuruma fi al-Bilad al-Arabiyah. Mesir: Dar al-Ma’rif, 1987.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Ruh al-Tarbiyah al-Islamiyah. Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah. Cet ke I, 1369 H / 1950 M.
Muhammad Yunus, Al-Tarbiyah wa al-Ta’lim, Saduran dalam al-Tarbiyah wa al-Ta’lim Juz awal C Gontor, Darussalam Press, tt.
H. Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Press, 2004.
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1992 & 1995.

Published in: on May 7, 2009 at 1:10 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://masekowahyudi.wordpress.com/2009/05/07/pendidikan-pai/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: